Liliana Wijaya Jonni, Perwira Muda Keturunan Tionghoa Asal Jepara

isjnews.com – AWAM diketahui, warga keturunan Tionghoa di Indonesia banyak terjun ke dunia usaha. Sangat sedikit yang menjadi abdi negara. Di antara yang sedikit itu ada Lili chai, perwira pertama (pama) di Polres Balikpapan.

Pada pandangan pertama, mudah menebak kalau Lili adalah sosok keturunan Tionghoa. Kulit putih. Bermata sipit. Satu lagi; bersenyum manis. Meski berbalut seragam polisi, pembawaan dara bernama lengkap Liliana Wijaya Jonni selalu ramah. Selain memang kepribadiannya yang mudah bergaul, juga tuntutan tugas.

Ya, perwira berpangkat Inspektur Dua (Ipda) berusia 23 tahun itu menjabat Kanit Dikyasa Satlantas Polres Balikpapan. Unit yang fokus memberikan penyuluhan dan pemahaman secara langsung kepada masyarakat seputar lalu lintas. Di Polda Kaltim, Lili tercatat satu-satunya polisi keturunan Tionghoa yang muslim.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini kelahiran Jakarta. Besar di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dari keluarga besarnya, hanya dia yang menjadi polisi. “Baru saya (menjadi penegak hukum), paling banyak jadi pedagang,” ungkapnya. Garis keturunan Tionghoa didapatkan Lili dari ibunya, Sri Astuti. Sri lahir di Jepara dan besar di Sintang. Ayah dan ibu Sri atau kakek dan nenek Lili penduduk asli Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar). Keseharian keluarga besarnya di Sintang menggunakan bahasa “Khek”. Bahasa daerah yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari.
Sedangkan ayahnya, Jonni Amidal asli Sumatra Barat. Dari cerita orangtuanya, dulu hendak menikah sangat susah. Ini dikarenakan, ibunya keturunan minoritas. “Cerita Amoi (panggilan ibu saya) dulu susah menikah kalau berbeda etnis, namun akhirnya jadi juga,” tuturnya, tersenyum.

Lulusan Akpol 2015 ini memang punya cita-cita menjadi polisi. Dipengaruhi kebiasaan semasa kecil, gemar nonton film seputar superhero. Tak pikir panjang, setelah lulus dari SMA  1 Jepara 2010, dia langsung mendaftar sebagai calon polisi. Mengikuti serangkaian tes, Liliana lolos. Namun, kala itu penentuan kuota dilakukan secara nasional. Tidak dihitung daerah. Lili pun gagal. Dia sempat down. Mengalami masa-sama kesedihan mendalam.
Bahkan sang ibu yang mengetahui hasil pengumuman ikut menangis. “Saya baru kali pertama lihat ibu nangis, ya waktu itu,” kata Liliana yang nyaris meneteskan air matanya ketika bercerita.Beberapa bulan kemudian, kesedihan mulai pudar. Dia pun terus berlatih dan mempersiapkan diri untuk mendaftar kembali pada 2011. Berkat tekad dan usaha, Lili meraih urutan satu nasional penerimaan Akpol. “Allah memuluskan proses pendaftaran hingga mengikuti serangkaian pendidikan akhirnya lulus pada 2015,” katanya.
Mengetahui lulus pendidikan, keluarga besarnya terang bangga. “Bangga karena satu-satunya keturunan kami yang jadi polisi ya saya,” kata pemilik sapaan Cece bagi para keluarga dan keponakannya itu. Selama pendidikan, tak hanya dirinya taruni (sebutan siswi akpol) yang keturunan Tionghoa. Ada pula seniornya. “Tidak ada minoritas, semua diperlakukan sama,” katanya, mengenang. Bahkan Liliana dipercaya menjadi kepala peleton (Danton). Dia membentuk pula Korcin (Korps China).
“Ada Korcin waktu jadi taruni, ngumpul per daerah buat seru-seruan,” katanya, tertawa lepas. Dalam waktu dekat, pemilik gelar Sarjana Terapan Kepolisian (STK) ini akan melanjutkan S-2 bidang transportasi di Leeds University, Inggris. “Kebetulan ada beasiswa, saya mengurus dan alhamdulillah lolos,” ucapnya.
Setelah lulus Akpol tahun lalu, Lili langsung ditempatkan di Polda Kaltim. Tugas awalnya sebagai Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (Ka SPK) Polres Balikpapan kemudian Kanit Dikyasa. Pengalamannya bertugas, dirinya sempat dibuat pusing mencari pelaku penculikan. Rupanya, pelakunya keluarga dekat korban. “Kejadiannya pas puasa, kita muter-muter cari pelakunya eh sekalinya keluarga dekat,” kata Lili. Tribratanewsjepara

Related

Pendidikan 4757290966837864983

Post a Comment

emo-but-icon

FANDPAGE FB ISJ

GUDANG PRINTING AND CLOTHING



Recent

Info Populer

Comments

APP ANDROID ISJ

ISJ RELIGI

item